Jumat, 27 Desember 2019


DURIAN, KOMODITAS TERKENAL DARI SUMATERA UTARA YANG
BERNILAI EKONOMIS TINGGI
Hutan biasanya dianggap sebagai areal yang memiliki banyak nilai atau manfaat yang dapat dipergunakan sebaik-baiknya, dimana nilai ekonomi dari hutan tersebut biasanya tidak akan selalu dipandang seberapa besar hutan tersebut mampu menghasilkan kayu. Hutan juga dapat menghasilkan hasil-hasil lain non kayu seperti menghasilkan udara segar, fungsi hutan sebagai penyediaan sumber daya air bagi manusia dan lingkungan, menyerap karbon, mengatur iklim global, serta memberikan nilai estetika sebagai daya tarik kawasan yang pada akhirnya nilai dari hutan tersebut memiliki keterkaitan dengan dunia pariwisata melalui kegiatan wisata alam.
Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yangmemiliki kekayaan alam yang sangat meimpah. Potensi ini membuat Sumatera Utara menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tempat wisata yang beragam karena keindahan alamnya. Potensi yang dimiliki Sumatera Utara menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin mengunjungi tempat pariwisata yang ada di daerah tersebut. Ada banyak objek wisata yang menjadi tujuan wisata alam di Provinsi Sumatera Utara. Salah satunya adalah Danau Toba.
Keberadaan Danau Toba dengan keindahan alamnya menjadikan daerah di sekitarnya sebagai prioritas obyek dan daya Tarik Wisata (ODTW) di Sumatera Utara (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, 2007). Saat ini kawasan Danau Toba ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) dan Destinasi Pariwisata Unggul (DPU) di provinsi Sumatera Utara. Menyadari hal tersebut, pemerintah menetapkan Kawasan Danau Toba (KDT) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) bidang pariwisata yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Data Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Simalungun tahun 2012 mengatakan bahwa jumlah pengunjung terbanyak pada tahun 1997 yaitu sebanyak 1.125.177 jiwa. Namun jumlah pengunjung ini terus mengalami penurunan menjadi 26.463 jiwa pada tahun 2006. Jumlah pengunjung di Parapat mengalami kenaikan sampai pada tahun 2009 mencapai 96.774 jiwa sedangkan pada tahun 2011 jumlah pengunjung berkurang menjadi 95.122 jiwa. Jumlah pengunjung di Parapat mengalami kenaikan sampai pada tahun 2009 mencapai 96.774 jiwa sedangkan pada tahun 2011 jumlah pengunjung berkurang menjadi 95.122 jiwa. Kenaikan pengunjung terjadi pada tahun 2013 menjadi 95.711 jiwa, pada tahun 2014 turun menjadi 95.047 jiwa. Pada tahun 2015 mencapai 90.598 sedangkan pda tahun 2016 mengalami turun menjadii 88.792 jiwa.
Hal tersebut terjadi karena beberapa faktor, seperti dari segi pelayanan pedagang hingga masalah kebersihan yang mengakibatkan berkurangnya wisatawan dan berdampak terhadap kehidupan masyarakat dari segi ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan. Kesiapan masyarakat dalam pengembangan wisata Danau Toba sangat minim, hal ini dilihat dari kurangnya kesadaran mereka terhadap beberapa aspek sapta pesona yang harus dimiliki yaitu, kebersihan, keindahan, ketertiban, keramahtamaan, dan kenangan. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap sapta pesona dapat dilihat dari pengeolaan sampah yang masih kurang, terlihat dari banyak sampah yang tertumpuk di satu areal, limbah dari barang dagang, seperti limbah kulit durian.
Gambar 1. Buah Durian.
Siapa tak kenal dengan Durian? Durian, salah satu buah yang memiliki banyak penikmatnya. Walau baunya menyengat, tapi bukan berarti mengurangi ketagihan para penggemarnya. Beruntungnya, Kota Medan sudah sangat terkenal dengan keeksotisan durian itu sendiri, bahkan Bapak Presiden kita, Jokowi wajib mampir untuk mencicipi buah bergelar king of fruit ini ketika berada di Kota Medan lho. Meskipun namanya Durian Medan, namun durian jenis ini bukan hanya bisa didapatkan di Kota Medan. Durian ini biasa dipasok dari beberapa wilayah Sumatera Utara yang memang kondisi alamnya banyak ditumbuhi pohon durian, seperti Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Nias, Kabupaten Langkat, Kota Pematang Siantar, Kecamatan Kabanjahe, Kota Sibolga, dan lain-lain.
Gambar 2. Bapak Jokowi Menyantap Buah Durian
Selama ini masyarakat yang tinggal di perkotaan hanya mengonsumsi daging buah dan bijinya untuk dibuat berbagai macam panganan, misalnya dodol/lempok, campuran kolak, selai, bahan campuran untuk kue, tempoyak (daging buah durian yang di-awetkan) dan lain-lain. Sedangkan kulit durian tersebut hanya menghiasi lingkungan kita sebagai setumpuk sampah yang menghasilkan bau busuk dan mendatangkan banyak kuman, serangga, lalat dan nyamuk yang tentunya akan berujung pada timbulnya sarang dan sumber penyakit. Selain itu tumpukan kulit durian yang sulit terdegradasi tersebut akan membuat pemandangan yang terlihat kotor.
Padahal, limbah menyebabkan pencemaran lingkungan, munculnya penyakit dan menurunkan nilai estetika/keindahan kota serta masalah-masalah lainnya. Limbah kulit durian yang selama ini tidak termanfaatkan dengan baik, karena karakternya yang sukar terurai sehingga berpotensi menjadi salah satu limbah hayati yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Dengan melihat pada struktur dan karakteristik dari kulit durian tersebut, sebenarnya dimungkinkan untuk memanfaatkan limbah kulit durian tersebut sebagai produk bioenergi berupa briket.
Briket kulit durian adalah gumpalan - gumpalan atau batangan ± batangan arang yang terbuat dari arang kulit durian. Berdasarkan beberapa data tentang produk konversi minyak seharusnya pemerintah bisa membuat kebijakan untuk lebih mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah kulit durian sebagai produk briket kulit durian yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai produk biogas sebagai substitusi minyak tanah, tentunya dengan metode tersebut masalah pencemaran lingkungan limbah kulit durian juga akan teratasi dengan baik, dengan efektif dan efisien, disamping itu dengan adanya usaha pemanfaatan pengolahan kulit durian sebagai produk briket bernilai ekonomis akan meningkatkan perekonomian masyarakat pedagang durian.
 Gambar 3. Proses Pembuatan Briket Kulit Durian.
Dengan adanya kegiatan pemanfaatan briket berbahan dasar kulit durian ini, tentunya akan menambah pengetahuan tentang adanya energi alternatif berupa briket dari limbah kulit durian. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat dikembangkan dan diaplikasikan lebih luas oleh masyarakat Semarang. Sehingga menjadi sebuah bidang wirausaha dengan efek samping positif berupa berbudaya hidup sehat, bersih dan ekonomis. Melalui kegiatan pemanfaatan briket berbahan dasar kulit durian ini memberikan sebuah solusi terkait masalah menumpuknya Limbah kulit durian. Kulit durian yang selama ini mengganggu kebersihan lingkungan di wilayah Semarang, khususnya pada saat musim panen durian
Dari hasil percobaan dari 1 Kg briket kulit durian berisi ± 25 keping briket, dapat digunakan untuk pembakaran efektif selama 6 jam non stop. Belum diperoleh data secara rinci perhitungan harga 1 kg briket kulit durian, tetapi apabila kita asumsikan harga I Kg briket kulit durian sama dengan 1 Kg Briket batu bara yaitu; Rp. 3000,- maka dengan penggunakan Rp. 3.000,- kita bisa memasak selama 6 jam. Apabila kita bandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak tanah, maka kita ketahui bahwa 1 liter minyak tanah seharga Rp. 6000,00. dengan pembakaran efektif selama 3- 4 jam non stop, sehingga terbukti bahwa penggunaan briket kulit durian lebih murah.
Kulit buah durian merupakan bahan organik yang sangat mudah diperoleh dikarenakan produksi buah durian yang tinggi khususnya di Sumatera Utara, menurut data Dinas Pertanian tanaman Pangan tahun 1998, produksi buah durian sebesar 48.892 ton dan cenderung meningkat sepanjang tahun. Dari buah durian ini diperoleh kulit durian sebesar 62,4% dan inilah yang akan menjadi limbah kota apabila tidak dimanfaatkan, sehingga dijadikan alternatif sebagai pupuk organik yang diharapkan berguna bagi tanaman, dan dapat memperbaiki sifat kimia tanah.
Gambar 4. Proses Pembuatan Kompos Kulit Durian.
Pemberian kompos kulit buah durian dengan dosis takaran 20 ton/ha berpengaruh sangat nyata untuk menetralkan sebagian efek meracun Al dalam larutan tanah dan juga meningkatkan KTK tanah serta pH tanah. Pemberian kompos kulit buah durian berpengaruh sangat nyata dalam menurunkan Al-dd Ultisol, serta menunjukan pengaruh yang sama dengan pemberian kompos kulit buah kakao, dengan dosis efektif 1,5 gr / 300 gr Ultisol atau setara dengan 10 ton/ha. Pemberian masing-masing kompos kulit buah durian dan kompos kulit buah kakao berpengaruh tidak nyata terhadap pH Ultisol, KTK Ultisol, COrganik Ultisol, dan N- Total Ultisol tetapi pada umumnya cenderung mengalami peningkatan.
Selain kulit durian, daun dan akar durian bermanfaat sebagai antipiretik dan daun durian yang dihancurkan dapat juga digunakan untuk pasien yang demam yaitu dengan cara diletakkan di atas dahi. Bagi orang yang mempunyai tekanan darah tinggi dianjurkan agar menghindari buah durian karena dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan kulit durian dapat digunakan sebagi penolak nyamuk.
Maka dari itu, sebagai warga asli Sumatera Utara, saya sangat bangga dengan komoditas utama kita yaitu durian yang mana telah menjadi favorit masyarakat Indonesia. Sangat disayangkan bila pengolahan durian hanya terpaku pada isi daging buahnya saja, padahal begitu banyak potensi yang bisa didadapat dari pengolahan limbah kulit durian. Bayangkan saja, berapa banyak limbah kulit durian yang dapat diolah menjadi produk lain seperti briket, kompos dan dll dan bisa menjadi peningkatan ekonomi khususnya kepada masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan buah durian. Harapannya, Masyarakat bisa lebih peduli terhadap pengelolaan limbah itu sendiri, dan kedepannya Pemerintah Sumatera Utara turut mendukung dan lebih memerhatikan lagi industri durian ini, mulai dari tunas, berbuah, hingga ke pengolahan limbah itu sendiri agar medan bisa lebih bersih, asri dan bebas dari sampah.



DAFTAR PUSTAKA
Buaton, Kleofine Widya Sonata dan Heru Purwadio. 2015. Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba Parapat, Sumatera Utara. Jurnal Teknik ITS. Vol. 4 (1) : 1-5.
Damanik, Volmer,  Lahuddin Musa , Posma Marbun. 2013. Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian Dan Kompos Kulit Kakao Pada Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah. Jurnal Online Agroekoteknologi.  Vol.2 (1) : 455-461.
Prabowo, Rossi. 2009. Pemanfaatan Limbah Kulit Durian Sebagai Produk Briket di Wilayah Kecamatan Gunung Pati Kabupaten Semarang. Jurnal  MEDIAGRO. Vol. 5 (1) : 52 – 57.
Widarto, Heru. 2009. Uji Aktivitas Minyak Atsiri Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) Sebagai Obat Nyamuk Elektrik Terhadap Nyamuk Aedes aegypti.  Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DURIAN, KOMODITAS TERKENAL DARI SUMATERA UTARA YANG BERNILAI EKONOMIS TINGGI Hutan biasanya dianggap sebagai areal yang memiliki banya...