Kamis, 11 April 2019

PEMANFAATAN KOMODITI SUMBER DAYA HASIL HUTAN RAMIN (Gonystylus bancanus)

Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan            Medan,   April 2019
PEMANFAATAN KOMODITI SUMBER DAYA HASIL
HUTAN RAMIN (Gonystylus bancanus)
Dosen Pembimbing :
Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si
Oleh :
Muhdaril Ahda 
171201147
HUT 4 D
             





PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Adapun judul paper ini “Pemanfaatan Komoditi Sumber Daya Hasil Hutan Ramin (Gonystylus bancanus)”. Paper ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Bapak Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya. Dalam penulisan paper ini penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian paper ini. Semoga paper ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.



                                                                                    Medan,   April 2019


                                               Penulis






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
 1.1 Latar Balakang 
 1.2 Rumusan Masalah 
 1.3 Tujuan


BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Jenis-jenis sumber daya alam
2.2 Ciri-ciri sumber daya hutan 
2.3 Identifikasi pohon berpotensi ESDH 

BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
          Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan   ditinjau dari sudut pandang sumberdaya  ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan.
          Sumberdaya hutan (SDH) Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible) berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini. Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia.
Hutan gambut merupakan ekosistem yang unik dengan ciri selalu tergenang air, komposisi jenis pohon beranekaragam mulai dari sejenis sampai campuran, terdapat lapisan gambut pada lantai hutan, mempunyai perakaran yang khas, dan dapat tumbuh pada tanah yang bersifat masam. Hutan gambut di Indonesia dapat dijumpai di pantai timur Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan, serta pantai selatan Irian Jaya. Ruang tumbuh di hutan rawa gambut Kalimantan makin terdesak karena adanya konversi lahan hutan untuk areal perkebunan. Salah satu jenis tumbuhan yang menjadi andalan di hutan rawa gambut adalah ramin.
          Manfaat hutan tidak diragukan lagi bagi perekonomian Indonesia namun menurut data statistik dari Departemen Kehutanan (1994), ternyata dari 27,2 juta jiwa yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan terdapat 34% masyarakat yang tergolong miskin yang hidupnya tergantung pada sumberdaya hutan. Salah satu faktor penyebab kemiskinan tersebut, diantaranya dikarenakan peningkatan jumlah penduduk serta penyebarannya yang tidak merata. Hal ini mempunyai dampak terhadap penyediaan kebutuhan pangan dan papan untuk dapat menjamin suatu kehidupan yang layak. Persoalan penduduk bisa berdampak setempat (wilayah atau negara tertentu), tetapi juga bisa berdampak global. Penduduk yang besar pada suatu negara tertentu membawa persoalan yang serius bagi dunia terutama masalah penyediaan bahan makanan dan pendistribusiannya dari sumberdaya lingkungan
Ramin (Gonystylus bancanus) dikenal sebagai salah satu jenis pohon utama penyusun hutan rawa gambut terutama yang mengalami genangan air secara periodik dan juga daerah yang tidak tergenang hingga ketinggian 100 m di atas permukaan laut. Ramin merupakan pohon yang selalu menghijau dan membutuhkan banyak cahaya, sementara permudaan/fase vegetatifnya membutuhkan naungan yang sedang. Bentuk daunnya bulat telur dan ujungnya berlipat, tulang daun banyak tetapi tidak nyata. Buah ramin selalu pecah tiga bila merekah. Ramin umumnya tumbuh di hutan rawa gambut, tepi sungai, dan terpengaruh oleh pasang surut yang airnya tidak pernah asin. Permintaan pasar akan kayu ramin terus meningkat hingga mendorong penebangan dan eksploitasi secara besar-besaran. Akibat eksploitasi yang berlebihan, populasi ramin yang hanya berkembang di habitat rawa gambut terus menurun tajam.    
1.2    Rumusan Masalah
1.    Apa saja jenis-jenis sumber daya alam?
2.    Apa ciri-ciri sumber daya hutan?
3.    Apa saja identifikasi dan potensi ekonomi sumberdaya hutan?

1.3    Tujuan
1.    Untuk mengetahui jenis-jenis sumber daya alam.
2.    Untuk mengetahui  ciri-ciri sumber daya hutan.
3.    Untuk mengetahui identifikasi dan potensi ekonomi sumberdaya hutan.




BAB II
ISI


2.1  Jenis-jenis sumber daya alam
     Hutan merupakan sumberdaya yang sangat penting bagi Negara Indonesia. Diperkirakan hampir lebih dari setengah penduduk Indonesia menggantungkan hidup terhadap hutan. Maka dari itu, paradigma pengelolaan hutan yang menekankan prinsip sustainable harus dipakai demi menjaga kelestarian fungsi hutan. Fungsi hutan itu sendiri tidak hanya fungsi ekologis, tetapi juga meliputi fungsi ekonomi, sosial dan budaya.
         Sumber daya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam hayati dan sumberdaya alam non hayati yang merupakan salah satu aset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sumber daya alam disediakan oleh alam semesta yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuknya bisa berwujud barang, benda, fenomena, suasana, gas/udara, air dan lain sebainya. Alam semesta diciptakan Tuhan yang Maha Esa dengan segala macam isinya untuk kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia.
2.1.1   Sumber daya alam yang dapat diperbarui
       Sumber daya alam yang dapat diperbarui (renewable resources) adalah sumber daya alam yang dapat pulih keberadaannya atau dapat dikembalikan persediaannya dalam waktu yang cepat. Walaupun sumber daya alam dipergunakan atau dimanfaat-kan oleh manusia, tetapi manusia dapat mengusahakan kembali sumber daya tersebut, sehingga tidak khawatir habis, karena manusia bisa memperbarui sumber daya alam tersebut. Menurut Undang-Undang RI No. 23 Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dibagi ke dalam sumber daya alam hayati misalnya biotika baik hewan maupun tumbuhan, sedangkan sumber daya alam non hayati seperti tanah, udara, air, dan lain-lain.
Sumber Daya Alam Hayati
       Sumber daya alam hayati ialah sumber daya alam yang berbentuk makhluk hidup, yaitu hewan dan tumbuh-tumbuhan”. Ciri utama dari sumber daya alam hayati adalah tumbuh, bergerak, berkembang biak, bernafas, dan membutuhkan makanan. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang permukaan tanahnya kaya akan sumber daya alam hayati (hewan dan tumbuhan) terbesar, sehingga disebut dengan paru-paru dunia. Macam-macam sumber daya alam hayati adalah sebagai berikut :
a.  Hewan
      Hewan termasuk salah satu dari sumber daya alam hayati dan termasuk dalam kategori dapat diperbarui. Hewan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan hewan peliharaan. Namun demikian, kadang ada orang yang me-ngelompokkan hewan ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan kepenting-annya, seperti hewan buas dan hewan jinak dan sebagainya.
      Hewan liar adalah hewan yang hidup secara liar di alam semesta secara bebas. mereka tumbuh, bergerak, mencari makan dan berkembang biak sendiri tanpa bantuan manusia secara langsung. Sebaliknya hewan peliharaan adalah hewan yang hidup secara dalam lingkungan tertentu, tidak bebas, mereka tumbuh, bergerak, mencari makan dan berkembang biak dengan bantuan manusia secara langsung maupun tidak langsung.
       Hewan peliharaan dipelihara oleh manusia. Manusia memelihara hewan untuk berbagai macam kepentingan, mulai dari hobi atau kesenangan, mencari keuntungan (sebagai salah bentuk kegiatan ekonomi), dan melindungi agar tidak punah. Hewan peliharaan yang dipelihara manusia sebagai kegiatan ekonomi dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara diperjual belikan dikenal dengan hewan ternak.
b.  Tumbuhan
     Tumbuhan termasuk salah satu dari sumber daya alam hayati dan termasuk dalam kategori dapat diperbarui. Tumbuhan memiliki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Tumbuhan merupakan sumber ma-kanan manusia, sehingga dapat dikatakan karena tumbuhanlah manusia bisa hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, tidaklah salah kalau dikatakan bahwa tan-pa tumbuhan manusia tidak dapat hidup. Sumber daya alam hayati tumbuhan dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu hutan, lahan pertanian dan perkebunan.
Sumber Daya Alam Hutan
Hutan adalah sebuah areal atau wilayah yang luas atau sangat luas, biasa-nya terletak di lereng sebuah pegunungan (dataran tinggi) yang mempunyai ciri khas banyak ditumbuhi berbagai macam pohon atau salah satu jenis pohon tertentu yang sangat padat. Sumber daya hutan menghasilkan banyak barang untuk kepentingan kesejahteraan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung keberadaan hutan membantu manusia untuk mendapatkan udara sejuk, bersih, segar dan sehat serta berguna sebagai sumber air, peresapan air bersih dan sehat. Bilamana tidak ada hutan maka kedua hal tersebut tidak mungkin dengan mudah kita dapatkan.
Hutan juga memberi manfaat bagi manusia dalam menyediakan berbagai macam tumbuhan yang bisa diolah sedemikian rupa menjadi berbagai macam obat-obatan untuk kesehatan manusia. Sebagaimana diketahui pada masyarakat yang tinggal di pinggir hutan, pola pengobatan banyak tergantung pada tanam-tanaman yang tumbuh di hutan. Selain menghasilkan berbagai macam kayu, tanaman obatobatan, hutan juga menghasilkan berbagai macam bunga yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada saat ini banyak ditemukan berbagai macam spesies bunga yang berasal dari hutan di daerah Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
2.2    Ciri-ciri sumber daya hutan
Semakin langkanya sumber daya hutan dengan sifat-sifatnya yang khas, telah mendorong lahirnya ekonomi sumber daya hutan sebagai objek pengetahuan sumber daya disiplin ilmu-ilmu kehutanan yang para rimbawan perlu mempelajarinya. Sebagai sumber daya ekonomi, pada dasarnya sumber daya hutan bersifat lentur (versatile) berarti berpotensi sangat luwes untuk dapat dimanfaatkan dalam banyak ragam komoditi akhir, bahkan komoditi-komoditi sumber daya hutan itu dapat dimanfaatkan berulang kali.
Ciri sumberdaya hutan yang penting adalah peranannya sebagai sistem penunjang kehidupan. Dalam hal ini hutan tropika berperan sebagai paru-paru dunia yang merupakan barang publik (international public goods) dan sumber keragaman hayati. Peran tersebut selain menyebabkan tingginya concern, juga telah menyebabkan adanya tekanan dunia internasional terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan. Komitmen internasional yang disepakati pemerintah sebagaimana tertuang dalam nota kesepahaman dengan IMF serta Consultative Group on Indonesia (CGI) akan merupakan bagian penting dari pembangunan kehutanan dan perkebunan di masa mendatang.
2.3    Identifikasi pohon yang memiliki potensi ekonomi sumberdaya hutan
Ramin ( Gonystylus bancanus )

Batang pohon ramin (Gonystylus bancanus)
Sistematika ramin dalam dunia tumbuh-tumbuhan adala sebagai berikut:
Divisi                : Spermatophyta
Kelas                : Dicotyledoneae
Ordo                 : Myrtales
Family              : Gonystylaceae
Genus              : Gonystylus
Spesies            : Gonystylus bancanus
Jenis ramin merupakan jenis yang mempunyai ciri khas baik secara morfologi maupun ekologi. Pada tingkat semai dan pancang jenis ini mudah dibedakan dengan jenis lain karena helaian daun kaku dan melipat (menyudut) pada tulang daun utama, tangkai daun dan ranting berwarna coklat. Tingkat pohon jenis ramin dicirikan dengan batang lurus hampir silindris tanpa banir dan mempunyai akar lutut yang banyak serta kulit beralur retak-retak warna kecoklatan terang. Dikatakan bahwa kulit batang (kambium) ramin mengeluarkan getah dan gatal bila mengenai kulit sehingga sering pula pohon ini dinamakan kayu miang. Kayu teras ramin berwarna kuning saat ditebang dan berubah menjadi putih kekuningan setelah kering, tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu gubalnya. Kayu ini termasuk kelas awet V, mudah diserang jamur biru dan bubuk kayu basah, tetapi mudah diawetkan.
Daun Ramin (Gonystylus bancanus)
Ramin tumbuh pada ketinggian 0 – 1500 mdpl dengan suhu rata-rata tahunan 24 - 27° C pada jenis tanah podsolik, tanah gambut, tanah aluvial dan tanah lempung berpasir kwarsa yang terbentuk dari bahan induk endapan, dengan tingkat keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4. Ramin tumbuh di hutan rawa gambut beriklim selalu basah dan tanah tergenang air gambut dengan tebal lapisan gambut 1-20 m. Di Serawak dan Brunei, ramin ditemukan di hutan rawa yang biasanya berasosiasi dengan Shorea albida. Batang ramin umumnya lurus dan tingginya dapat mencapai 40-50 m, tinggi batang bebas dengan cabang mencapai 20-30 m tanpa banir, dengan diameter bisa mencapai 120 cm. Kayu teras ramin berwarna kuning saat ditebang dan berubah menjadi putih kekuningan setelah kering, tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu gubalnya. Kayu ini termasuk kelas awet V, mudah diserang jamur biru dan bubuk kayu basah, tetapi mudah diawetkan.
Buah Ramin (Gonystylus bancanus)
Apabila meninjau dari sifat biologisnya, ramin bukan merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai siklus perubahan yang teratur pada tiap tahunnya sehingga regenerasi alam jenis ramin lebih lambat daripada jenis lain. Selain faktor di atas, kondisi lingkungan tempat tumbuh juga sangat besar pengaruhnya. Musim bunga dari pohon ramin bervariasi setiap daerah dengan interval yang tidak beraturan. Pohon ramin jenis dengan kecenderungan hidup mengelompok dengan sebaran terbatas. Di Indonesia untuk sekarang ini, jenis kayu ramin hanya dapat dijumpai di kawasan hutan rawa Pulau Sumatera, kepulauan di selat Karimata, dan Pulau Kalimantan.
Semai Ramin (Gonystylus bancanus)
Perbanyakan ramin dapat dilakukan secara generatif dengan biji, maupun vegetatif dengan stek. Bibit ramin asal biji yang disemaikan (seedling) memiliki daya tahan hidup yang lebih baik yaitu 67% dan riap lebih tinggi 12,4 cm/tahun dibandingkan dengan bibit asal stek berturut-turut 44% dan 5,5 cm/tahun dan bibit asal anakan alam/liar (wildling) yakni 40% dan 12/6 cm/tahun.
Ramin merupakan salah satu kayu ekspor utama Asia Tenggara. Indonesia merupakan pengekspor terbesar, disusul Malaysia. Negara-negara Eropa merupakan pengimpor utama kayu ramin. Ramin (Gonystylus bancanus) merupakan salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan rawa gambut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, khususnya peralatan rumah tangga dan dekorasi di dalam rumah. Warna kayu yang putih dan mudah mengerjakannya, menyebabkan kayu ramin sangat banyak diminati dan dibutuhkan baik di dalam maupun di luar negeri. Ramin merupakan salah stau jenis pohon yang mendominasi struktur hutan di lapisan atas. Kayu ramin banyak digunakan untuk konstruksi ringan di bawah atap, rangka pintu, jendela, meubel, kayu lapis, moulding, dan kayu yang mengandung gaharu dipakai untuk wangi-wangian dan obat.


Persemaian Ramin di Lahan Gambut (Gonystylus bancanus)
Ramin (Gonystylus bancanus) merupakan salah satu jenis pohon komersial khas hutan rawa khususnya rawa gambut. Ramin memiliki kelimpahan 1,48 individu/ha untuk (tingkat pohon), 33,75 individu/ha untuk tingkat tiang, 125 individu/ha untuk tingkat pancang, dan 468,75 individu/ha untuk tingkat semai. Dengan nilai komersilnya yang tinggi, pohon ini disukai oleh banyak orang dan akibatnya banyak ditebang, baik secara legal maupun illegal.
Di Indonesia ketentuan untuk memelihara kelestarian produksi kayu Ramin telah dituangkan secara terperinci dalam ketentuan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) dan Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan, No.151/KPTS/IV-BPHH/ 1993 ditetapkan sebagai Kriteria dan Indikator Pengelolaan Hutan Produksi Alam Indonesia secara Lestari. Regenerasi dapat dilakukan dengan cara permudaan alam maupun permudaan buatan. Regenerasi dengan cara permudaan alam dapat dilakukan dengan pengadaan biji dari pohon induk penghasil biji (sumber benih), sedangkan regenerasi dengan permudaan buatan dapat dilakukan dengan enrichment planting dimana pengadaan benih dapat melalui stump, anakan dari biji ataupun stek.
Kayu Lapis
Berdasarkan data Departemen Kehutanan tahun 1980, luas hutan rawa primer di Kalimantan Tengah mencapai 453.000 hektar. Dalam jangka waktudua dasawarsa, luas degradasi hutan rawa primer di Kalimantan Tengah telah mencapai 224.472 ha. Terfragmentasinya sebaran ramin sedikit banyak akan mempengaruhi kelangsungan hidup spesies ini. Eksploitasi Ramin dari hutan rawa gambut sejak tahun 1976 sampai dengan tahun 2000 lebih kurang 8,72 juta m³. Dengan menggunakan asumsi bahwa pola penyebaran satu spesies adalah “sama pada habitat dan ekosistem yang sama” dan dengan berdasarkan data PUP yang telah dianalisis oleh Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam yang mencakup presentase jumlah pohon ramin terhadap pohon jenis lainnya, rataan volume per ha, serta riap diameter (Tabel 1), maka perkiraan potensi ramin di Indonesia saat ini dapat dihitung.
Tabel 1. Rekapitulasi data potensi ramin berdasarkan data PUP (Ø > 10 cm)
Lokasi
Presentase N/ ha
Volume (m³/ha)
Riap diameter (cm/thn)
Sumatera
1,10
3.372
0,42
Kalimantan
0,76
3,842
0,53
Berdasarkan data PUP yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia, potensi ramin di daerah Sumatra saat ini sekitar 3.73 m3/ha (1.1 pohon/ha) dengan riap diameter 0.42 cm/tahun. Total potensi tegakan ramin di Sumatra diperkirakan sebesar 1.602.334 m3. Potensi ramin di Kalimantan yang ada saat ini sekitar 3.84 m3/ha (0.76 pohon/ha) dengan riap diameter 0.53 cm/tahun. Total potensi ramin di seluruh Kalimantan diperkirakan sebesar 4.091.730 m3. Keadaan diameter pohon di Kalimantan rata-rata lebih besar dibandingkan dengan keadaan diameter di Sumatra.



BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
1.      Ciri sumberdaya hutan yang penting adalah peranannya sebagai sistem penunjang kehidupan. Dalam hal ini hutan tropika berperan sebagai paru-paru dunia yang merupakan barang publik (International Public Goods) dan sumber keragaman hayati. Peran tersebut selain menyebabkan tingginya concern, juga telah menyebabkan adanya tekanan dunia internasional terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan.
2..      Ramin mempunyai ciri helaian daun yang kaku dan melipat (menyudut) pada tulang daun utama, tangkai daun dan ranting berwarna coklat, batang lurus hampir silindris tanpa banir dan mempunyai akar lutut yang banyak serta kulit beralur retak-retak warna kecoklatan terang, tumbuh pada ketinggian 0 – 1500 mdpl dengan suhu rata-rata tahunan 24 - 27° C pada jenis tanah podsolik, tanah gambut, tanah aluvial dan tanah lempung berpasir kwarsa yang terbentuk dari bahan induk endapan, dengan tingkat keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4, batang ramin umumnya lurus dan tingginya dapat mencapai 40-50 m, tinggi batang bebas dengan cabang mencapai 20-30 m tanpa banir, dengan diameter bisa mencapai 120 cm.
3.      Kayu ramin banyak digunakan untuk konstruksi ringan di bawah atap, rangka pintu, jendela, meubel, kayu lapis, moulding, dan kayu yang mengandung gaharu dipakai untuk wangi-wangian dan obat.

DAFTAR PUSTAKA
Astria, R.M, Dkk. 2015. Keberadaan Ramin (Gonystylus bancanus (MIQ.) Kurz)
             di Kawasan Hutan Lindung Ambawang Kecil Kecamatam Teluk Pakedai
             Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. Vol. 3 (3) : 354-362.
Heriyanto, N.M dan R. Garsetiasih. 2006. Ekologi dan Potensi Ramin (Gonystylus
             bancanus
Kurz.) di Kelompok Sungai Tuan-Sungai Suruk, Kalimantan
             Barat. Buletin Plasma Nutfah. Vol. 12 (1).
Machfudh dan Rinaldi. 2006. Potensi, Pertumbuhan. dan Regenerasi Ramin     
             (Gonystylus spp.) di Hutan Alam di Indonesia. PROSIDING Workshop
             Nasional Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.
Bogor.
Utami, N.W, Dkk. 2006. Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Semai Ramin
             (Gonystylus bancanus Miq.) Pada Berbagai Media Tumbuh.
             Biodiversitas.  Vol. 7 (3) : 264-268.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

DURIAN, KOMODITAS TERKENAL DARI SUMATERA UTARA YANG BERNILAI EKONOMIS TINGGI Hutan biasanya dianggap sebagai areal yang memiliki banya...