DURIAN,
KOMODITAS TERKENAL DARI SUMATERA UTARA YANG
BERNILAI
EKONOMIS TINGGI
Hutan biasanya dianggap
sebagai areal yang memiliki banyak nilai atau manfaat yang dapat dipergunakan
sebaik-baiknya, dimana nilai ekonomi dari hutan tersebut biasanya tidak akan
selalu dipandang seberapa besar hutan tersebut mampu menghasilkan kayu. Hutan
juga dapat menghasilkan hasil-hasil lain non kayu seperti menghasilkan udara
segar, fungsi hutan sebagai penyediaan sumber daya air bagi manusia dan
lingkungan, menyerap karbon, mengatur iklim global, serta memberikan nilai
estetika sebagai daya tarik kawasan yang pada akhirnya nilai dari hutan
tersebut memiliki keterkaitan dengan dunia pariwisata melalui kegiatan wisata
alam.
Sumatera Utara merupakan
salah satu provinsi di Indonesia yangmemiliki kekayaan alam yang sangat
meimpah. Potensi ini membuat Sumatera Utara menjadi salah satu daerah di
Indonesia yang memiliki tempat wisata yang beragam karena keindahan alamnya.
Potensi yang dimiliki Sumatera Utara menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan lokal
maupun mancanegara yang ingin mengunjungi tempat pariwisata yang ada di daerah
tersebut. Ada banyak objek wisata yang menjadi tujuan wisata alam di Provinsi
Sumatera Utara. Salah satunya adalah Danau Toba.
Keberadaan Danau Toba
dengan keindahan alamnya menjadikan daerah di sekitarnya sebagai prioritas
obyek dan daya Tarik Wisata (ODTW) di Sumatera Utara (Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Sumatera Utara, 2007). Saat ini kawasan Danau Toba ditetapkan
sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) dan Destinasi Pariwisata Unggul
(DPU) di provinsi Sumatera Utara. Menyadari hal tersebut, pemerintah menetapkan
Kawasan Danau Toba (KDT) sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) bidang
pariwisata yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata
Nasional. Data Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Simalungun tahun
2012 mengatakan bahwa jumlah pengunjung terbanyak pada tahun 1997 yaitu
sebanyak 1.125.177 jiwa. Namun jumlah pengunjung ini terus mengalami penurunan
menjadi 26.463 jiwa pada tahun 2006. Jumlah pengunjung di Parapat mengalami
kenaikan sampai pada tahun 2009 mencapai 96.774 jiwa sedangkan pada tahun 2011
jumlah pengunjung berkurang menjadi 95.122 jiwa. Jumlah pengunjung di Parapat
mengalami kenaikan sampai pada tahun 2009 mencapai 96.774 jiwa sedangkan pada
tahun 2011 jumlah pengunjung berkurang menjadi 95.122 jiwa. Kenaikan pengunjung
terjadi pada tahun 2013 menjadi 95.711 jiwa, pada tahun 2014 turun menjadi
95.047 jiwa. Pada tahun 2015 mencapai 90.598 sedangkan pda tahun 2016 mengalami
turun menjadii 88.792 jiwa.
Hal
tersebut terjadi karena beberapa faktor, seperti dari segi pelayanan pedagang
hingga masalah kebersihan yang mengakibatkan berkurangnya wisatawan dan
berdampak terhadap kehidupan masyarakat dari segi ekonomi, sosial-budaya dan
lingkungan. Kesiapan masyarakat dalam pengembangan wisata Danau Toba sangat
minim, hal ini dilihat dari kurangnya kesadaran mereka terhadap beberapa aspek
sapta pesona yang harus dimiliki yaitu, kebersihan, keindahan, ketertiban,
keramahtamaan, dan kenangan. Kurangnya perhatian masyarakat terhadap sapta
pesona dapat dilihat dari pengeolaan sampah yang masih kurang, terlihat dari
banyak sampah yang tertumpuk di satu areal, limbah dari barang dagang, seperti
limbah kulit durian.
Siapa tak kenal dengan Durian?
Durian, salah satu buah yang memiliki banyak penikmatnya. Walau baunya
menyengat, tapi bukan berarti mengurangi ketagihan para penggemarnya.
Beruntungnya, Kota Medan sudah sangat terkenal dengan keeksotisan durian itu
sendiri, bahkan Bapak Presiden kita, Jokowi wajib mampir untuk mencicipi buah
bergelar king of fruit ini ketika
berada di Kota Medan lho. Meskipun namanya Durian Medan, namun durian jenis ini
bukan hanya bisa didapatkan di Kota Medan. Durian ini biasa dipasok dari
beberapa wilayah Sumatera Utara yang memang kondisi alamnya banyak ditumbuhi
pohon durian, seperti Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Nias, Kabupaten Langkat,
Kota Pematang Siantar, Kecamatan Kabanjahe, Kota Sibolga, dan lain-lain.
Padahal, limbah
menyebabkan pencemaran lingkungan, munculnya penyakit dan menurunkan nilai
estetika/keindahan kota serta masalah-masalah lainnya. Limbah kulit durian yang
selama ini tidak termanfaatkan dengan baik, karena karakternya yang sukar
terurai sehingga berpotensi menjadi salah satu limbah hayati yang dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan. Dengan melihat pada struktur dan karakteristik
dari kulit durian tersebut, sebenarnya dimungkinkan untuk memanfaatkan limbah
kulit durian tersebut sebagai produk bioenergi berupa briket.
Briket kulit durian
adalah gumpalan - gumpalan atau batangan ± batangan arang yang terbuat dari
arang kulit durian. Berdasarkan beberapa data tentang produk konversi minyak
seharusnya pemerintah bisa membuat kebijakan untuk lebih mendorong masyarakat
untuk memanfaatkan limbah kulit durian sebagai produk briket kulit durian yang
nantinya dapat dimanfaatkan sebagai produk biogas sebagai substitusi minyak
tanah, tentunya dengan metode tersebut masalah pencemaran lingkungan limbah
kulit durian juga akan teratasi dengan baik, dengan efektif dan efisien,
disamping itu dengan adanya usaha pemanfaatan pengolahan kulit durian sebagai
produk briket bernilai ekonomis akan meningkatkan perekonomian masyarakat
pedagang durian.
Dari hasil percobaan
dari 1 Kg briket kulit durian berisi ± 25 keping briket, dapat digunakan untuk
pembakaran efektif selama 6 jam non stop. Belum diperoleh data secara rinci
perhitungan harga 1 kg briket kulit durian, tetapi apabila kita asumsikan harga
I Kg briket kulit durian sama dengan 1 Kg Briket batu bara yaitu; Rp. 3000,-
maka dengan penggunakan Rp. 3.000,- kita bisa memasak selama 6 jam. Apabila
kita bandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak tanah, maka kita ketahui
bahwa 1 liter minyak tanah seharga Rp. 6000,00. dengan pembakaran efektif
selama 3- 4 jam non stop, sehingga terbukti bahwa penggunaan briket kulit
durian lebih murah.
Kulit buah durian
merupakan bahan organik yang sangat mudah diperoleh dikarenakan produksi buah
durian yang tinggi khususnya di Sumatera Utara, menurut data Dinas Pertanian
tanaman Pangan tahun 1998, produksi buah durian sebesar 48.892 ton dan
cenderung meningkat sepanjang tahun. Dari buah durian ini diperoleh kulit
durian sebesar 62,4% dan inilah yang akan menjadi limbah kota apabila tidak
dimanfaatkan, sehingga dijadikan alternatif sebagai pupuk organik yang
diharapkan berguna bagi tanaman, dan dapat memperbaiki sifat kimia tanah.
Pemberian kompos kulit
buah durian dengan dosis takaran 20 ton/ha berpengaruh sangat nyata untuk
menetralkan sebagian efek meracun Al dalam larutan tanah dan juga meningkatkan
KTK tanah serta pH tanah. Pemberian kompos kulit buah durian berpengaruh sangat
nyata dalam menurunkan Al-dd Ultisol, serta menunjukan pengaruh yang sama
dengan pemberian kompos kulit buah kakao, dengan dosis efektif 1,5 gr / 300 gr
Ultisol atau setara dengan 10 ton/ha. Pemberian masing-masing kompos kulit buah
durian dan kompos kulit buah kakao berpengaruh tidak nyata terhadap pH Ultisol,
KTK Ultisol, COrganik Ultisol, dan N- Total Ultisol tetapi pada umumnya
cenderung mengalami peningkatan.
Selain kulit durian, daun
dan akar durian bermanfaat sebagai antipiretik dan daun durian yang dihancurkan
dapat juga digunakan untuk pasien yang demam yaitu dengan cara diletakkan di
atas dahi. Bagi orang yang mempunyai tekanan darah tinggi dianjurkan agar
menghindari buah durian karena dapat meningkatkan tekanan darah, sedangkan
kulit durian dapat digunakan sebagi penolak nyamuk.
Maka dari itu, sebagai
warga asli Sumatera Utara, saya sangat bangga dengan komoditas utama kita yaitu
durian yang mana telah menjadi favorit masyarakat Indonesia. Sangat disayangkan
bila pengolahan durian hanya terpaku pada isi daging buahnya saja, padahal
begitu banyak potensi yang bisa didadapat dari pengolahan limbah kulit durian.
Bayangkan saja, berapa banyak limbah kulit durian yang dapat diolah menjadi
produk lain seperti briket, kompos dan dll dan bisa menjadi peningkatan ekonomi
khususnya kepada masyarakat yang menggantungkan hidupnya dengan buah durian.
Harapannya, Masyarakat bisa lebih peduli terhadap pengelolaan limbah itu
sendiri, dan kedepannya Pemerintah Sumatera Utara turut mendukung dan lebih memerhatikan
lagi industri durian ini, mulai dari tunas, berbuah, hingga ke pengolahan
limbah itu sendiri agar medan bisa lebih bersih, asri dan bebas dari sampah.
DAFTAR PUSTAKA
Buaton, Kleofine Widya Sonata dan Heru Purwadio.
2015. Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba Parapat, Sumatera Utara.
Jurnal Teknik ITS. Vol. 4 (1) : 1-5.
Damanik,
Volmer, Lahuddin Musa , Posma Marbun.
2013. Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Durian Dan Kompos Kulit Kakao Pada
Ultisol Terhadap Beberapa Aspek Kimia Kesuburan Tanah. Jurnal Online
Agroekoteknologi. Vol.2 (1) : 455-461.
Prabowo,
Rossi. 2009. Pemanfaatan Limbah Kulit Durian Sebagai Produk Briket di Wilayah
Kecamatan Gunung Pati Kabupaten Semarang. Jurnal MEDIAGRO. Vol. 5 (1) : 52 – 57.
Widarto,
Heru. 2009. Uji Aktivitas Minyak Atsiri Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) Sebagai Obat Nyamuk Elektrik Terhadap Nyamuk
Aedes aegypti. Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.



