Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2019
PEMANFAATAN KOMODITI SUMBER DAYA HASIL
HUTAN
RAMIN (Gonystylus bancanus)
Dosen Pembimbing :
Dr. Agus
Purwoko., S.Hut.,
M.Si
Oleh :
Muhdaril Ahda
171201147
171201147
HUT 4 D
PROGRAM STUDI
KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis
sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Adapun
judul paper ini “Pemanfaatan Komoditi Sumber Daya Hasil Hutan Ramin (Gonystylus bancanus)”. Paper ini
merupakan salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan Program Studi
Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Bapak Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan
bimbingannya. Dalam penulisan paper
ini penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan
ini.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian paper ini. Semoga
paper ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Balakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Jenis-jenis
sumber daya alam
2.2 Ciri-ciri sumber daya hutan
2.3 Identifikasi pohon berpotensi ESDH
BAB
III. PENUTUP
3.1
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon
yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam
lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian
hutan ditinjau dari sudut pandang
sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi,
yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu
sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat
diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan
dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula
dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses
silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan.
Sumberdaya hutan (SDH)
Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat dirasakan pada tingkatan
lokal, nasional, maupun global. Manfaat tersebut terdiri atas manfaat nyata
yang terukur (tangible) berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu
seperti rotan, bambu, damar dan lain-lain, serta manfaat tidak terukur (intangible)
berupa manfaat perlindungan lingkungan, keragaman genetik dan lain-lain. Saat
ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai secara rendah
sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH yang berlebih. Hal tersebut
disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai
manfaat SDH secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut
perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini.
Penilaian sendiri merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari
suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia.
Hutan gambut merupakan ekosistem yang unik dengan ciri selalu tergenang air,
komposisi jenis pohon beranekaragam mulai dari sejenis sampai campuran, terdapat
lapisan gambut pada lantai hutan, mempunyai perakaran yang khas, dan dapat
tumbuh pada tanah yang bersifat masam. Hutan gambut di Indonesia dapat dijumpai
di pantai timur Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan, serta pantai
selatan Irian Jaya. Ruang tumbuh di hutan rawa gambut Kalimantan makin terdesak
karena adanya konversi lahan hutan untuk areal perkebunan. Salah satu jenis
tumbuhan yang menjadi andalan di hutan rawa gambut adalah ramin.
Manfaat hutan tidak
diragukan lagi bagi perekonomian Indonesia namun menurut data statistik dari
Departemen Kehutanan (1994), ternyata dari 27,2 juta jiwa yang berada di dalam
dan sekitar kawasan hutan terdapat 34% masyarakat yang tergolong miskin yang
hidupnya tergantung pada sumberdaya hutan. Salah satu faktor penyebab
kemiskinan tersebut, diantaranya dikarenakan peningkatan jumlah penduduk serta
penyebarannya yang tidak merata. Hal ini mempunyai dampak terhadap penyediaan
kebutuhan pangan dan papan untuk dapat menjamin suatu kehidupan yang layak.
Persoalan penduduk bisa berdampak setempat (wilayah atau negara tertentu),
tetapi juga bisa berdampak global. Penduduk yang besar pada suatu negara tertentu membawa persoalan yang
serius bagi dunia terutama masalah penyediaan bahan makanan dan
pendistribusiannya dari sumberdaya lingkungan
Ramin (Gonystylus bancanus) dikenal sebagai salah satu jenis
pohon utama penyusun hutan rawa gambut terutama yang mengalami genangan air
secara periodik dan juga daerah yang tidak tergenang hingga ketinggian 100 m di
atas permukaan laut. Ramin merupakan pohon yang selalu menghijau dan
membutuhkan banyak cahaya, sementara permudaan/fase vegetatifnya membutuhkan
naungan yang sedang. Bentuk daunnya bulat telur dan ujungnya berlipat, tulang
daun banyak tetapi tidak nyata. Buah ramin selalu pecah tiga bila merekah. Ramin
umumnya tumbuh di hutan rawa gambut, tepi sungai, dan terpengaruh oleh pasang
surut yang airnya tidak pernah asin. Permintaan pasar akan kayu ramin terus
meningkat hingga mendorong penebangan dan eksploitasi secara besar-besaran.
Akibat eksploitasi yang berlebihan, populasi ramin yang hanya berkembang di
habitat rawa gambut terus menurun tajam.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa saja jenis-jenis sumber daya alam?
2.
Apa ciri-ciri sumber daya hutan?
3.
Apa saja identifikasi dan potensi ekonomi sumberdaya
hutan?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui jenis-jenis sumber daya alam.
2.
Untuk mengetahui ciri-ciri
sumber daya hutan.
3. Untuk
mengetahui identifikasi dan potensi ekonomi sumberdaya hutan.
BAB II
ISI
2.1 Jenis-jenis sumber daya alam
Hutan
merupakan sumberdaya yang sangat penting bagi Negara Indonesia. Diperkirakan hampir
lebih dari setengah penduduk Indonesia menggantungkan hidup terhadap hutan.
Maka dari itu, paradigma pengelolaan hutan yang menekankan prinsip sustainable
harus dipakai demi menjaga kelestarian fungsi hutan. Fungsi hutan itu sendiri
tidak hanya fungsi ekologis, tetapi juga meliputi fungsi ekonomi, sosial dan
budaya.
Sumber daya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam hayati dan sumberdaya alam non hayati yang merupakan salah satu aset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sumber daya alam disediakan oleh alam semesta yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuknya bisa berwujud barang, benda, fenomena, suasana, gas/udara, air dan lain sebainya. Alam semesta diciptakan Tuhan yang Maha Esa dengan segala macam isinya untuk kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia.
Sumber daya alam adalah unsur lingkungan yang terdiri atas sumberdaya alam hayati dan sumberdaya alam non hayati yang merupakan salah satu aset yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sumber daya alam disediakan oleh alam semesta yang dapat dipergunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bentuknya bisa berwujud barang, benda, fenomena, suasana, gas/udara, air dan lain sebainya. Alam semesta diciptakan Tuhan yang Maha Esa dengan segala macam isinya untuk kelangsungan dan kesejahteraan umat manusia.
2.1.1 Sumber daya alam yang dapat diperbarui
Sumber daya alam yang dapat
diperbarui (renewable resources) adalah sumber daya alam yang dapat
pulih keberadaannya atau dapat dikembalikan persediaannya dalam waktu yang
cepat. Walaupun
sumber daya alam dipergunakan atau dimanfaat-kan oleh manusia, tetapi manusia
dapat mengusahakan kembali sumber daya tersebut, sehingga tidak khawatir habis,
karena manusia bisa memperbarui sumber daya alam tersebut. Menurut Undang-Undang RI No. 23
Tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam dibagi ke dalam
sumber daya alam hayati misalnya biotika baik hewan maupun tumbuhan, sedangkan
sumber daya alam non hayati seperti tanah, udara, air, dan lain-lain.
Sumber
Daya Alam Hayati
Sumber daya alam hayati ialah
sumber daya alam yang berbentuk makhluk hidup, yaitu hewan dan
tumbuh-tumbuhan”. Ciri utama dari sumber daya alam hayati adalah tumbuh,
bergerak, berkembang biak, bernafas, dan membutuhkan makanan. Indonesia
merupakan salah satu negara di dunia yang permukaan tanahnya kaya akan sumber daya
alam hayati (hewan dan tumbuhan) terbesar, sehingga disebut dengan paru-paru
dunia. Macam-macam sumber daya alam hayati adalah sebagai berikut :
a. Hewan
Hewan
termasuk salah satu dari sumber daya alam hayati dan termasuk dalam kategori
dapat diperbarui. Hewan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hewan liar dan
hewan peliharaan. Namun demikian, kadang ada orang yang me-ngelompokkan hewan
ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan kepenting-annya, seperti hewan buas
dan hewan jinak dan sebagainya.
Hewan liar adalah hewan yang hidup secara liar di
alam semesta secara bebas. mereka tumbuh, bergerak, mencari makan dan
berkembang biak sendiri tanpa bantuan manusia secara langsung. Sebaliknya hewan
peliharaan adalah hewan yang hidup secara dalam lingkungan tertentu, tidak bebas,
mereka tumbuh, bergerak, mencari makan dan berkembang biak dengan bantuan
manusia secara langsung maupun tidak langsung.
Hewan peliharaan dipelihara oleh manusia. Manusia
memelihara hewan untuk berbagai macam kepentingan, mulai dari hobi atau kesenangan,
mencari keuntungan (sebagai salah bentuk kegiatan ekonomi), dan melindungi agar
tidak punah. Hewan peliharaan yang dipelihara manusia sebagai kegiatan ekonomi
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara diperjual belikan
dikenal dengan hewan ternak.
b. Tumbuhan
Tumbuhan termasuk salah satu dari sumber daya alam
hayati dan termasuk dalam kategori dapat diperbarui. Tumbuhan memiliki manfaat
yang sangat besar bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Tumbuhan merupakan
sumber ma-kanan manusia, sehingga dapat dikatakan karena tumbuhanlah manusia
bisa hidup dan berkembang biak. Oleh karena itu, tidaklah salah kalau dikatakan
bahwa tan-pa tumbuhan manusia tidak dapat hidup. Sumber daya alam hayati
tumbuhan dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu hutan, lahan
pertanian dan perkebunan.
Sumber Daya
Alam Hutan
Hutan adalah
sebuah areal atau wilayah yang luas atau sangat luas, biasa-nya terletak di
lereng sebuah pegunungan (dataran tinggi) yang mempunyai ciri khas banyak
ditumbuhi berbagai macam pohon atau salah satu jenis pohon tertentu yang
sangat padat. Sumber daya hutan menghasilkan banyak barang untuk kepentingan
kesejahteraan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak
langsung keberadaan hutan membantu manusia untuk mendapatkan udara sejuk,
bersih, segar dan sehat serta berguna sebagai sumber air, peresapan air bersih
dan sehat. Bilamana tidak ada hutan maka kedua hal tersebut tidak mungkin
dengan mudah kita dapatkan.
Hutan juga memberi manfaat bagi
manusia dalam menyediakan berbagai macam tumbuhan yang bisa diolah sedemikian
rupa menjadi berbagai macam obat-obatan untuk kesehatan manusia. Sebagaimana
diketahui pada masyarakat yang tinggal di pinggir hutan, pola pengobatan banyak
tergantung pada tanam-tanaman yang tumbuh di hutan. Selain menghasilkan
berbagai macam kayu, tanaman obatobatan, hutan juga menghasilkan berbagai macam
bunga yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Pada saat ini banyak ditemukan
berbagai macam spesies bunga yang berasal dari hutan di daerah Kalimantan,
Sulawesi dan Papua.
2.2
Ciri-ciri
sumber daya hutan
Semakin
langkanya sumber daya hutan dengan sifat-sifatnya yang khas, telah mendorong
lahirnya ekonomi sumber daya hutan sebagai objek pengetahuan sumber daya
disiplin ilmu-ilmu kehutanan yang para rimbawan perlu mempelajarinya. Sebagai
sumber daya ekonomi, pada dasarnya sumber daya hutan bersifat lentur
(versatile) berarti berpotensi sangat luwes untuk dapat dimanfaatkan dalam
banyak ragam komoditi akhir, bahkan komoditi-komoditi sumber daya hutan itu dapat
dimanfaatkan berulang kali.
Ciri sumberdaya
hutan yang penting adalah peranannya sebagai sistem penunjang kehidupan. Dalam
hal ini hutan tropika berperan sebagai paru-paru dunia yang merupakan barang
publik (international public goods) dan sumber keragaman hayati. Peran tersebut
selain menyebabkan tingginya concern, juga telah menyebabkan adanya tekanan
dunia internasional terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan.
Komitmen internasional yang disepakati pemerintah sebagaimana tertuang dalam nota
kesepahaman dengan IMF serta Consultative Group on Indonesia (CGI) akan
merupakan bagian penting dari pembangunan kehutanan dan perkebunan di masa
mendatang.
2.3
Identifikasi
pohon yang memiliki potensi ekonomi sumberdaya hutan
Ramin ( Gonystylus
bancanus )
![]() |
| Batang pohon ramin (Gonystylus bancanus) |
Sistematika
ramin dalam dunia tumbuh-tumbuhan adala sebagai berikut:
Divisi :
Spermatophyta
Kelas :
Dicotyledoneae
Ordo :
Myrtales
Family :
Gonystylaceae
Genus :
Gonystylus
Spesies :
Gonystylus bancanus
Jenis
ramin merupakan jenis yang mempunyai ciri khas baik secara morfologi maupun ekologi.
Pada tingkat semai dan pancang jenis ini mudah dibedakan dengan jenis lain
karena helaian daun kaku dan melipat (menyudut) pada tulang daun utama, tangkai
daun dan ranting berwarna coklat. Tingkat pohon jenis ramin dicirikan dengan
batang lurus hampir silindris tanpa banir dan mempunyai akar lutut yang banyak
serta kulit beralur retak-retak warna kecoklatan terang. Dikatakan
bahwa kulit batang (kambium) ramin mengeluarkan getah dan gatal bila mengenai
kulit sehingga sering pula pohon ini dinamakan kayu miang. Kayu teras ramin
berwarna kuning saat ditebang dan berubah menjadi putih kekuningan setelah kering,
tidak mempunyai batas yang jelas dengan kayu gubalnya. Kayu ini termasuk kelas
awet V, mudah diserang jamur biru dan bubuk kayu basah, tetapi mudah diawetkan.
![]() |
| Daun Ramin (Gonystylus bancanus) |
Ramin
tumbuh pada ketinggian 0 – 1500 mdpl dengan suhu rata-rata tahunan 24 - 27° C
pada jenis tanah podsolik, tanah gambut, tanah
aluvial dan tanah lempung berpasir kwarsa yang terbentuk dari bahan induk
endapan, dengan tingkat keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4.
Ramin
tumbuh di hutan rawa gambut beriklim selalu basah dan tanah tergenang air
gambut dengan tebal lapisan gambut 1-20 m. Di Serawak dan Brunei, ramin ditemukan
di hutan rawa yang biasanya berasosiasi dengan Shorea albida. Batang ramin umumnya lurus dan tingginya dapat
mencapai 40-50 m, tinggi batang bebas dengan cabang mencapai 20-30 m tanpa
banir, dengan
diameter bisa mencapai 120 cm. Kayu teras ramin berwarna kuning saat ditebang dan berubah
menjadi putih kekuningan setelah
kering, tidak mempunyai batas yang
jelas dengan kayu gubalnya. Kayu ini termasuk kelas awet V, mudah diserang
jamur biru dan bubuk kayu basah, tetapi mudah diawetkan.
![]() |
| Buah Ramin (Gonystylus bancanus) |
Apabila
meninjau dari sifat biologisnya, ramin bukan merupakan jenis tumbuhan yang mempunyai
siklus perubahan yang teratur pada tiap tahunnya sehingga regenerasi alam jenis ramin lebih lambat
daripada jenis lain. Selain faktor di atas, kondisi lingkungan tempat tumbuh juga sangat
besar pengaruhnya. Musim bunga dari
pohon
ramin bervariasi setiap daerah dengan interval yang tidak beraturan. Pohon ramin jenis dengan kecenderungan hidup mengelompok dengan
sebaran
terbatas. Di Indonesia untuk sekarang ini, jenis kayu ramin hanya dapat dijumpai di kawasan hutan rawa Pulau Sumatera, kepulauan di selat Karimata, dan Pulau
Kalimantan.
![]() |
| Semai Ramin (Gonystylus bancanus) |
Perbanyakan
ramin dapat dilakukan secara generatif
dengan biji, maupun vegetatif dengan
stek. Bibit
ramin asal biji yang disemaikan (seedling) memiliki daya tahan hidup yang
lebih baik yaitu 67% dan riap lebih
tinggi 12,4 cm/tahun dibandingkan
dengan bibit asal stek berturut-turut 44% dan 5,5 cm/tahun dan bibit asal
anakan alam/liar
(wildling) yakni 40% dan 12/6 cm/tahun.
Ramin merupakan salah
satu kayu ekspor utama Asia Tenggara. Indonesia merupakan pengekspor terbesar,
disusul Malaysia. Negara-negara Eropa merupakan pengimpor utama kayu ramin. Ramin (Gonystylus bancanus) merupakan salah satu jenis pohon
yang tumbuh di hutan rawa gambut dapat digunakan untuk berbagai keperluan, khususnya
peralatan rumah tangga dan dekorasi di dalam rumah. Warna kayu yang putih dan
mudah mengerjakannya, menyebabkan kayu ramin
sangat banyak diminati dan dibutuhkan
baik di dalam maupun di luar negeri.
Ramin merupakan salah stau jenis
pohon yang mendominasi struktur hutan di
lapisan atas. Kayu ramin
banyak digunakan untuk konstruksi ringan di bawah atap, rangka pintu, jendela,
meubel, kayu lapis, moulding, dan kayu yang mengandung gaharu dipakai untuk wangi-wangian
dan obat.
![]() |
| Persemaian Ramin di Lahan Gambut (Gonystylus bancanus) |
Ramin (Gonystylus bancanus)
merupakan salah satu jenis pohon komersial khas hutan rawa khususnya rawa
gambut. Ramin
memiliki kelimpahan 1,48 individu/ha untuk (tingkat pohon), 33,75 individu/ha untuk tingkat tiang, 125 individu/ha
untuk tingkat pancang, dan
468,75 individu/ha untuk tingkat semai. Dengan nilai komersilnya yang tinggi, pohon ini disukai oleh
banyak orang dan akibatnya banyak ditebang, baik secara legal maupun illegal.
Di Indonesia ketentuan untuk memelihara kelestarian produksi kayu
Ramin telah dituangkan secara terperinci dalam ketentuan Tebang Pilih Tanam
Indonesia (TPTI) dan Keputusan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan,
No.151/KPTS/IV-BPHH/ 1993 ditetapkan sebagai Kriteria dan Indikator Pengelolaan
Hutan Produksi Alam Indonesia secara Lestari. Regenerasi dapat dilakukan dengan
cara permudaan alam maupun permudaan buatan. Regenerasi dengan cara permudaan
alam dapat dilakukan dengan pengadaan biji dari pohon induk penghasil biji
(sumber benih), sedangkan regenerasi dengan permudaan buatan dapat dilakukan
dengan enrichment planting dimana
pengadaan benih dapat melalui stump,
anakan dari biji ataupun stek.
![]() |
| Kayu Lapis |
Berdasarkan
data Departemen Kehutanan tahun 1980, luas hutan rawa primer di Kalimantan
Tengah mencapai 453.000 hektar. Dalam jangka waktudua dasawarsa, luas degradasi
hutan rawa primer di Kalimantan Tengah telah mencapai 224.472 ha.
Terfragmentasinya sebaran ramin sedikit banyak akan mempengaruhi kelangsungan
hidup spesies ini. Eksploitasi Ramin dari hutan rawa gambut sejak tahun 1976
sampai dengan tahun 2000 lebih kurang 8,72 juta m³. Dengan menggunakan asumsi
bahwa pola penyebaran satu spesies adalah “sama pada habitat dan ekosistem yang
sama” dan dengan berdasarkan data PUP yang telah dianalisis oleh Pusat Litbang
Hutan dan Konservasi Alam yang mencakup presentase jumlah pohon ramin terhadap
pohon jenis lainnya, rataan volume per ha, serta riap diameter (Tabel 1), maka
perkiraan potensi ramin di Indonesia saat ini dapat dihitung.
Tabel 1. Rekapitulasi data potensi ramin
berdasarkan data PUP (Ø > 10 cm)
Lokasi
|
Presentase N/ ha
|
Volume (m³/ha)
|
Riap diameter
(cm/thn)
|
Sumatera
|
1,10
|
3.372
|
0,42
|
Kalimantan
|
0,76
|
3,842
|
0,53
|
Berdasarkan
data PUP yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia, potensi ramin di daerah
Sumatra saat ini sekitar 3.73 m3/ha (1.1 pohon/ha) dengan riap diameter 0.42
cm/tahun. Total potensi tegakan ramin di Sumatra diperkirakan sebesar 1.602.334
m3. Potensi ramin di Kalimantan yang ada saat ini sekitar 3.84 m3/ha (0.76
pohon/ha) dengan riap diameter 0.53 cm/tahun. Total potensi ramin di seluruh
Kalimantan diperkirakan sebesar 4.091.730 m3. Keadaan diameter pohon di
Kalimantan rata-rata lebih besar dibandingkan dengan keadaan diameter di
Sumatra.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. Ciri sumberdaya
hutan yang penting adalah peranannya sebagai sistem penunjang kehidupan. Dalam
hal ini hutan tropika berperan sebagai paru-paru dunia yang merupakan barang
publik (International Public Goods) dan sumber keragaman hayati. Peran tersebut
selain menyebabkan tingginya concern, juga telah menyebabkan adanya tekanan
dunia internasional terhadap kegiatan pembangunan kehutanan dan perkebunan.
2.. Ramin mempunyai ciri helaian daun yang
kaku dan melipat (menyudut) pada tulang daun utama, tangkai daun dan ranting
berwarna coklat, batang lurus hampir silindris tanpa banir dan mempunyai akar
lutut yang banyak serta kulit beralur retak-retak warna kecoklatan terang, tumbuh
pada ketinggian 0 – 1500 mdpl dengan suhu rata-rata tahunan 24 - 27° C pada
jenis tanah podsolik, tanah gambut, tanah aluvial dan
tanah lempung berpasir kwarsa yang terbentuk dari bahan induk endapan, dengan
tingkat keasaman (pH) bervariasi dari 3,6 sampai dengan 4,4, batang
ramin umumnya lurus dan tingginya dapat mencapai 40-50 m, tinggi batang bebas
dengan cabang mencapai 20-30 m tanpa banir, dengan
diameter bisa mencapai 120 cm.
3.
Kayu
ramin banyak digunakan untuk konstruksi ringan di bawah atap, rangka pintu,
jendela, meubel, kayu lapis, moulding, dan kayu yang mengandung gaharu dipakai
untuk wangi-wangian dan obat.
DAFTAR PUSTAKA
Astria, R.M, Dkk. 2015. Keberadaan Ramin (Gonystylus
bancanus (MIQ.) Kurz)
di Kawasan Hutan Lindung Ambawang Kecil Kecamatam Teluk Pakedai
Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. Vol. 3 (3) : 354-362.
di Kawasan Hutan Lindung Ambawang Kecil Kecamatam Teluk Pakedai
Kabupaten Kubu Raya. Jurnal Hutan Lestari. Vol. 3 (3) : 354-362.
Heriyanto, N.M dan
R. Garsetiasih. 2006. Ekologi dan Potensi Ramin (Gonystylus
bancanus Kurz.) di Kelompok Sungai Tuan-Sungai Suruk, Kalimantan
Barat. Buletin Plasma Nutfah. Vol. 12 (1).
bancanus Kurz.) di Kelompok Sungai Tuan-Sungai Suruk, Kalimantan
Barat. Buletin Plasma Nutfah. Vol. 12 (1).
Machfudh dan
Rinaldi. 2006. Potensi, Pertumbuhan. dan Regenerasi Ramin
(Gonystylus spp.) di Hutan Alam di Indonesia. PROSIDING Workshop
Nasional Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
(Gonystylus spp.) di Hutan Alam di Indonesia. PROSIDING Workshop
Nasional Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Utami, N.W, Dkk.
2006. Perkecambahan Biji dan Pertumbuhan Semai Ramin
(Gonystylus bancanus Miq.) Pada Berbagai Media Tumbuh.
Biodiversitas. Vol. 7 (3) : 264-268.
(Gonystylus bancanus Miq.) Pada Berbagai Media Tumbuh.
Biodiversitas. Vol. 7 (3) : 264-268.






